Kamis, 20 Agustus 2015

WONOSOBO

   
Kabupaten Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Wonosobo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo


by : SUDI SLAMET

berdasarkan sejarah 


Berdasarkan cerita rakyat, pada awal abad ke-17 tersebutlah 3 orang pengelana masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis pemukiman yang diketahui saat ini bernama Wonosobo. Selanjutnya, Kyai Kolodete bermukim di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim bermukim di daerah Kalibeber dan Kyai Walik bermukim di sekitar Kota Wonosobo sekarang.
Dikemudian hari, dikenal beberapa tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Selomanik. Dikenal pula tokoh yang bernama Tumenggung Wiroduta sebagai penguasa Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Pecekelan-Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok, Wonosobo, atau Plobangan saat ini.
Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu Kyai Karim tersebut dikenal sebagai Ki Singodewono yang telah mendapat hadiah suatu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat sebagai penguasa daerah ini namanya diganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini pusat kekuasaan dipindahkan di Selomerto. Setelah meninggal dunia, Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di desa Pakuncen.
Selanjutnya pada masa Perang Diponegoro ( 1825 - 1830 ) , Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Misbach atau kemudian dikenal sebagai Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaraan, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngarpah.
Dalam pertempuran melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu, Pangeran Diponegoro memberikan nama kepada Kyai Muhamad Ngarpah dengan nama Tumenggung Setjonegoro. Selanjutnya Tumenggung Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar nama Tumenggung Setjonegoro.
Eksistensi kekuasaan Setjonegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah Perang Diponegoro berakhir. Disebutkan pula bahwa Setjonegoro adalah bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke daerah Kota Wonosobo saat ini.
Dari hasil seminar Hari Jadi Wonosobo 28 April 1994, yang dihadiri oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, Sesepuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pmpinan DPRD dan Pmpinan Komisi serta Instansi Pemerintah Wonosobo yang telah menyepakati Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.

      wisata alam wonosobo

1. dataran tinggi dieng

  
 

Dieng adalah kawasan dataran tinggi yang terletak di perbatasan antara Banjarnegara dan Wonosobo, secara administrasi Dieng berada di Kecamatan Kejajar, jaraknya sekitar 30 Km dari pusat kota Wonosobo. Dieng merupakan salah satu tempat wisata di Wonosobo yang sangat terkenal dan menarik untuk dikunjungi.
 

 


2. Curug Winong

 
 
Tempat wisata di Wonosobo selanjutnya anda bisa mengunjungi curug winong yang lokasinya berada di Desa Winongsari, Kecamatan Kaliwiro, kurang lebih sekitar 50 menit perjalanan dari pusat kota Wonosobo menuju ke arah selatan melewati jalur Wonosobo, Selomerto, Balaikambang, Winongsari dan Curug Winong. Untuk bisa menikmati cipratan air curug winong ini, dari loket pembelian tiket anda harus berjalan beberapa ratus meter melewati jalan setapak hingga mencapai lokasi curug.
 

3.waduk wadas lintang 


Waduk ini terkenal sebagai lokasi favorit untuk rekreasi memancing bagi para penggemar olah raga memancing. Biasanya pada akhir pekan dan hari libur, banyak pemancing baik dari dalam maupun luar kota yang mengunjungi waduk ini

4.telaga menjer


Telaga Menjer adalah telaga yang terbentuk akibat dari letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja. Dulunya air di telaga itu hanyalah dari beberapa mata air kecil di sekitar telaga dan juga mengandalkan curah hujan yang cukup tinggi didaerah ini. Pada zaman penjajahan Belanda dengan akan dibangunnya PLTA Garung dibawah telaga tersebut, maka dibendunglah sebagian sungai Serayu yang berada di sebelah utara desa Jengkol. Kemudian dialirkan melalui terowongan bawah tanah sepanjang ± 7 km dibawah perkebunan teh PT Tambi yang berada di sebagian wilayah Desa Kreo dan Tlogo. Untuk mengalirkan air dari telaga ini menuju PLTA, dibendunglah sebagian kecil dari telaga dan di bawahnya dipasang pipa dengan diameter mencapai ± 3m menuju ke PLTA yang berjarak sekitar 2 km.

5 kali anget


Kalianget adalah sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Wonosobo, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Kali adalah sungai kecil, anget adalah hangat. Itulah kenapa awal mula desa ini bernama kalianget karena di desa ini terdapat sumber mata air hangat yang selalu mengalir. Kebanyakan orang desa kalianget dan sekitarnya untuk berendam sekaligus terapi badan. Air hangat alami itupun juga bisa dijadikan sebagai pengobatan penyakit seperti Panu,Kadas,Kurap,Gatal-gatal karena alergi dan masih banyak yang lainya. Selain itu air hangat tsb dapat dinikmati di Taman Rekreasi Kalianget.

6.sikunir 

 

Jika beruntung kita dapat menyaksikan lautan awan di puncak Sikunir (seperti pada gambar diatas), pemandangan seperti ini biasanya dapat dijumpai menjelang musim kemarau sekitar bulan Juli/Agustus.

 7 GUNUNG PRAHU

Pendakian ke Puncak Prau sendiri tidak memakan waktu lama jika anda melewati Jalur Patak Banteng. Waktu yang dibutuhkan untuk melalui jalur ini sekitar 2.5 jam. Walaupun waktu tempuhnya relatif cepat, tetapi jalur pendakian tak semudah yang dibayangkan, karena jalur pendakian Patak Banteng ini sangat terjal.

 8. air terjun sikarim